PALU, EKBISTA.COM – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah memfasilitasi kegiatan Capacity Building bagi pengurus Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (HEBITREN) Sulteng, Kamis (10/4/2025).
Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat peran pesantren sebagai pilar ekonomi umat. Kegiatan bertajuk “Berani Makmur – Pesantren Berdaya Melalui Peningkatan Kapasitas Pendidikan dan Wirausaha” ini dibuka langsung oleh Kepala perwakilan BI Sulteng, Rony Hartawan.
“Capacity Building ini dilaksanakan sebagai bentuk nyata dukungan terhadap transformasi ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Rony Hartawan.
Rony berharap melalui kegiatan Capacity Building, terjadi peningkatan pemahaman mengenai strategi pengelolaan usaha yang berorientasi pada pemberdayaan komunitas, meliputi sektor pertanian, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta industri kreatif.
“Sinergi dengan Bank Indonesia dan mitra strategis lainnya diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pengelolaan ekonomi pesantren secara lebih profesional, produktif, dan berdaya saing,” kata Rony.
Lebih dari 30 pesantren dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Tengah turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Seluruh peserta yang hadir akan terintegrasi dalam jaringan HEBITREN Sulawesi Tengah sebagai bagian dari gerakan kolektif untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren berbasis komunitas dan nilai-nilai syariah.
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Asisten Administrasi Umum Setdaprov Sulteng M. Sadly Lesnusa, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Drs. H. Rusdin, M.M, serta Ketua DPW HEBITREN Sulawesi Tengah, Dr. H. Ali Hasan Aljufri, Lc., M.A.
Hadirkan Narasumber Berpengalaman
Narasumber yang hadir dalam Capacity Building HEBITREN ini merupakan sosok berpengalaman dan profesional. Adapun narasumber yang memberikan materi antara lain Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, kemudian pakar ekosistem kemandirian ekonomi pesantren dari Pesantren Sunan Drajat Jawa Timur, Dr. Anas Alhifni, M.Si, serta Pimpinan Pesantren Modern Al Umanaa Jawa Barat, K.H. Mindjali.
Para narasumber memaparkan konsep, strategi, serta praktik terbaik dalam pengembangan ekonomi dan kewirausahaan berbasis pesantren, lengkap dengan kisah sukses yang inspiratif sebagai acuan implementasi bagi para peserta.
Potensi Besar Ekonomi Syariah
Kepala Perwakilan BI Sulteng, Rony Hartawan menyebutkan, di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat belakangan ini, ekonomi syariah dapat menjadi solusi kerangka ekonomi baru yang mendukung implementasi kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan inovatif.
“Peluang ekonomi syariah masih sangat besar secara global dengan perputaran uang pada bidang Halal food dan Modest fashion mencapai lebih dari 4.000 triliun rupiah,” jelas Rony Hartawan.
Menurut Rony, selain Halal food dan Modest fashion, beberapa bidang yang memiliki kontribusi cukup besar bagi perekonomian syariah antara lain Media & Recreation, Halal Pharma, Halal Cosmetic, dan Muslim Friendly Travel.
Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim sebanyak 245 juta dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, memiliki peluang yang sangat besar untuk mengembangkan perekonomian syariah.
State of the Global Islamic Economy (SGIE) juga mengeluarkan pemeringkatan di mana Indonesia masih menempati peringkat-3 dalam hal index ekonomi syariah, di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
“Berbagai data ini menjadi penguat pentingnya pengembangan ekonomi syariah di Indonesia, yang mana salah satu pilarnya bisa diwujudkan lewat pengembangan HEBITREN,” katanya.
Kata Rony, jumlah anggota HEBITREN kini meningkat menjadi 56 pesantren, seiring bergabungnya 44 anggota baru dari 10 kabupaten dan 1 kota yang hadir dalam kegiatan ini. Hal ini mencerminkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif.
“Dengan lebih dari 100 pesantren tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tengah, yang menaungi lebih dari 12.000 santri dan hampir 1.500 tenaga pendidik, potensi ekonomi syariah lokal sangat besar dan perlu dikelola secara terarah serta terintegrasi. HEBITREN hadir sebagai jembatan strategis untuk memfasilitasi potensi tersebut menuju transformasi dan kemandirian ekonomi pesantren yang berkelanjutan,” jelas Rony Hartawan.
Inovasi menjadi salah satu elemen kunci dalam proses transformasi ini. Salah satu inisiatif yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah platform digital WIZSTREN, sebuah lembaga ziswaf nasional di bawah naungan HEBITREN yang bertujuan memfasilitasi pengumpulan dan pendayagunaan zakat, infak, wakaf, dan sedekah secara produktif dan transparan.
WIZSTREN diharapkan mampu menjawab tantangan zaman serta menjadi motor penggerak ekonomi umat berbasis digital.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan terwujud sinergi yang lebih kuat antara pesantren, lembaga keuangan, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ekosistem ekonomi pesantren yang inklusif, kompetitif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” harap Rony Hartawan. ***








